Finansial Bukanlah Alasan untuk Mengorbankan Kesehatan

Sebagian orang diluar sana sangat gemar bekerja keras sampai-sampai lupa akan siang dan malam. Tidak ingat waktu bekerja yang sebenarnya, jadi sudah menjadi kebiasaan tersendiri.

Tanpa disadari, mereka mengorbankan kesehatan diri untuk melakukan pekerjaannya demi memenuhi finansial yang baik. Padahal, biaya pengobatan akan kerusakan yang terjadi pada tubuh lebih mahal dibandingkan 2-3 bulan bekerja siang dan malam, (perhitungan UMR saat ini).

Bagaimana menurut Anda? Mencari nafkah pada dasarnya untuk memenuhi finansial baik secara pribadi maupun keluarga. Bagaimana jika, keuangan yang Anda kumpulkan dari jerih payah, harus dikeluarkan untuk mengobati penyakit yang timbul akibat pekerjaan yang terlalu over dan tidak mampu ditangkal oleh tubuh? pastinya bakalan merugikan banget kan.

Saat ini, di Indonesia sendiri masih menjadi mayoritas remaja yang menikmati masa-masa begadang untuk menghabiskan sisa malam dengan hiburan seperti bermain game, facebook-an, bekerja, dan berbagai macam hal lainnya.

Kami juga termasuk orang-yang suka ikut begadang jika sudah berkumpul dengan teman, tanpa disadari jantung dan sistem tubuh lainnya turut jadi korban akibat kebiasaan tersebut.

Baca Juga >>>  Cara Mudah Mengamankan Uang Gajian dari Sifat Boros

Kerja untuk hidup, atau sebaliknya?

Sebagian orang masih salah memahami arti sebenarnya mencari pekerjaan. Kami sampai pusing tujuh keliling, kenapa selama ini kami begitu mengejar kebutuhan yang seharusnya tidak pernah ada?

Ya, semakin tingginya pemasukan maka kebutuhan hidup juga semakin meningkat. Maka jangan heran jika lupa waktu demi mengejar angan yang tak sampai-sampai.

Demi meneruskan jenjang karir, ada orang yang mengorbankan kesehatan demi mencari 1%-5% kesempatan finansial yang membaik. Menurut kami, 08.00 – 18.00 sudah lebih dari kata cukup untuk mencari nafkah sambil mengisi ruang kosong yang ada di hati.

Sisa waktunya cukuplah buat istirahat, janganlah korupsi waktu sampai harus 24-48 jam bekerja non-stop. Robot saja mesti di charge kembali agar mampu hidup, kan tidak mungkin jika terus-menerus nonstop.

Jadi kita yang manusia kenapa harus nonstop? Selain itu, jika sudah merasa cukup dengan kondisi finansial nya, tidaklah perlu terlalu mengejar sampai harus menjadi salah satu dari 10 Milyader di Dunia.

Baca Juga >>>  Kebiasaan Membayar Upah Sebelum Pekerjaan Selesai

Cukuplah menjadi milyader di keluarga sebagai orang yang sukses finansial dan sudah mampu menjadi lebih baik. Sisanya tinggal diteruskan saja dan meminimalisir waktu yang terpakai.

Bagaimana menyikapinya?

Kesadaran diri! semua orang perlu sadar akan dirinya, jadi tidak perlu menunggu untuk diingatkan oleh orang lain. Apalagi yang sudah gede-gede, kiranya bocah masih wajar di ingatin, lah ini sudah jadi bapak orang. Nikmati waktu bekerja untuk bekerja, jangan sita lebih banyak waktu. Sisanya kan bisa nyantai bareng keluarga, istri, anak-anak dan lainnya.

Setelah finansial menjadi lebih baik, keharmonisan dalam keluarga harus dijaga. Menuntut ilmu? itu bukan alasan. Disela-sela pekerjaan Anda tetap bisa mencuri-curi waktu 15-20 menit untuk mengisi ruang kosong dikepala Anda dengan pengetahuan-pengetahuan baru atau sekedar mengingat kembali yang pernah Anda pelajari.

  • Fix yourself before you do something.
  • Before to late, you must be ready!
  • C’mon, you’re have brave and can be awesome

Biasanya kami selalu menyemangati diri untuk menghindari pemborosan waktu. Secepat mungkin mengerjakan pekerjaan agar bisa beristirahat dengan nyaman tanpa halangan apapun lagi.

Baca Juga >>>  Tips Menghindari Penipuan Ketika Bertransaksi secara Online

Jam kerja kami cukup singkat sebagai pengangguran, 2-3 jam saja. Setelah itu, kami menikmati waktu bebas kami bersama game, watch anime like wibu, main sama kucing.

Mengorbankan kesehatan bukanlah jalan satu-satunya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Apalagi kalau melarat, bela-belain begadang demi nunggu orderan yang belum pasti adanya, kebiasaan seller nih yang begini modelnya.

Tidak perlu terlalu berharap juga, Insya Allah kalau memang rejeki, tidak akan pernah ketukar. Jadi keep calm dan belajar sabar. Kami sudah lelah dengan model yang diatas, menunggu hingga bosan dan akhirnya tidak jadi, lebik baik istirahat saja, besoknya ada orderan. Adem kan jadinya?

Bagaimana menurut Anda? bekerja untuk hidup atau hidup untuk kerja? tidak ada bedanya dengan konsep hidup untuk makan atau makan untuk hidup.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *